SERAT KARYA
Aku masih menjadi lelaki yang sama, yang setiap malam diam-diam menyebut namamu di antara doa yang tak pernah selesai.
Jarak telah memisahkan langkah kita, tetapi anehnya ia justru membuatmu semakin dekat di dalam kepala dan semakin jauh dari kenyataan.
Aku bisa memaksa kakiku berjalan meninggalkan tempat-tempat yang pernah menyimpan kita, tetapi aku tidak pernah berhasil memaksa hatiku berhenti kembali kepadamu.
Barangkali begitulah rasanya kehilangan seseorang yang masih hidup ia ada di dunia yang sama, hanya saja tak lagi bisa kita jangkau.
Aku pernah berpikir lelaki harus kuat menghadapi segala kehilangan, sampai akhirnya aku tahu bahwa ada kehilangan yang bahkan keberanian pun tak sanggup menaklukkannya.
Di hadapanmu, aku mungkin pernah terlihat tegar, seolah jarak hanyalah perjalanan yang bisa ditempuh dengan kesabaran.
Tetapi setelah kau benar-benar jauh, aku baru mengerti bahwa yang paling melelahkan bukanlah berjalan menuju seseorang, melainkan bertahan ketika tahu perjalanan itu mungkin tak akan pernah membawamu kembali.
Dan setiap malam, aku harus berdamai dengan kenyataan bahwa perempuan yang paling ingin kupeluk justru menjadi seseorang yang hanya bisa kupeluk melalui kenangan.
Kau seperti embun yang jatuh perlahan di ujung daun saat dunia masih tertidur.
Indah, dekat, dan sempat membuat pagi terasa begitu sempurna, tetapi selalu ada matahari yang datang untuk memisahkan kita tanpa pernah meminta izin.
Aku adalah daun yang masih menunggumu jatuh kembali, meski jauh di dalam hati aku tahu, embun tidak pernah ditakdirkan untuk tinggal selamanya.
Maka setiap kali pagi datang, aku hanya bisa menyaksikan sisa-sisa dirimu menghilang bersama cahaya, sementara hatiku kembali basah oleh sesuatu yang tak seorang pun dapat melihat.
Aku ingin menerima semua ini dengan lapang, tetapi bagaimana mungkin hati menerima sesuatu yang sejak awal tidak pernah ia kehendaki?
Aku ingin percaya bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan terbaik, tetapi terkadang aku begitu lelah menunggu takdir menjelaskan mengapa orang yang begitu kucintai justru harus dijauhkan dariku.
Ada malam ketika aku ingin menyerah pada semua rasa, berhenti berharap, berhenti menunggu, berhenti mencari alasan untuk tetap mencintaimu.
Namun setiap kali mencoba, hatiku kembali berbisik pelan, bagaimana mungkin aku berhenti mencintai seseorang yang bahkan kepergiannya saja masih mampu membuatku merasa kehilangan seluruh dunia?
Kini aku hanya memiliki kenangan sebagai tempat terakhir untuk bertemu denganmu. Di sana, kau masih tersenyum, masih menatapku seperti dulu, masih menjadi perempuan yang membuatku lupa bahwa dunia pernah mengajarkan tentang kehilangan.
Aku tahu kenangan tidak akan pernah mengembalikanmu, tetapi hanya itu yang tersisa ketika kenyataan terlalu kejam untuk dipeluk.
Maka biarkan aku sesekali kembali ke sana, bukan karena aku tak ingin sembuh, melainkan karena ada bagian dari diriku yang belum siap mengubur seseorang yang masih begitu hidup di dalam hati.
Dan jika suatu hari nanti aku benar-benar mampu tersenyum tanpa mencarimu di antara keramaian, jangan kira aku telah melupakanmu.
Mungkin aku hanya sudah belajar menyimpan luka di tempat yang paling sunyi, tempat yang bahkan air mata pun tidak lagi mampu menemukannya.
Sebab sesungguhnya aku tidak pernah kalah oleh jarak, aku hanya kalah oleh kenyataan bahwa sejauh apa pun aku merindukanmu, tidak semua rindu memiliki jalan untuk sampai.
Dan mungkin, inilah hukuman paling sunyi bagi seorang lelaki yang masih mencintai harus menjalani hari-hari tanpa perempuan yang dicintainya, sambil berpura-pura bahwa hatinya tidak sedang perlahan-lahan kehilangan dirinya sendiri. (G)

0 Komentar