SERAT KARYA
Tuhan,
ada malam-malam ketika dadaku begitu penuh oleh rindu hingga air mata jatuh tanpa suara,
bukan karena aku ingin menyerah, tetapi karena aku terlalu lama menyimpan nama seseorang di dalam doa,
nama yang tak pernah berani kusebut keras-keras di hadapan dunia, namun selalu sampai kepada-Mu bahkan sebelum bibirku mengucapkannya.
Aku tahu Engkau melihat bagaimana aku berusaha terlihat baik-baik saja,
sementara di dalam hati ada seseorang yang terus hidup dalam diam, tumbuh di antara doa-doa yang tak pernah selesai,
aku mencoba mengikhlaskan, tetapi setiap kali mengingatnya, harapan itu kembali tumbuh seperti cahaya kecil di ujung malam,
dan aku kembali percaya bahwa mungkin Engkau belum selesai menuliskan kisah kami.
Tuhan, jika memang dia bukan jalan yang Kau kehendaki untukku,
tolong jangan biarkan cintaku berubah menjadi alasan untuk menjauh dari-Mu,
ambil rasa ini perlahan jika memang harus Kau ambil, hingga aku mampu tersenyum tanpa harus memilikinya,
tetapi jika dia adalah seseorang yang Kau takdirkan untuk tinggal, jagalah dia sampai waktuku tiba untuk menggenggam tangannya.
Aku tidak meminta Engkau mempercepat pertemuan,
aku hanya memohon agar penantian ini tidak sia-sia,
sebab aku rela menunggu selama yang Engkau kehendaki, selama penantian itu membuatku semakin mengenal-Mu dan bukan semakin kehilangan arah,
karena bagiku, lebih baik terlambat bersamanya dalam kehendak-Mu daripada memilikinya lebih cepat tetapi kehilangan keberkahan-Mu.
Terkadang aku bertanya dalam sunyi,
mengapa Engkau mempertemukan hati kami jika akhirnya harus ada jarak yang begitu panjang di antara kami,
namun kemudian aku sadar, mungkin pertemuan itu bukan untuk membuatku segera memiliki, melainkan untuk mengajariku bahwa mencintai juga berarti menyerahkan,
dan bahwa ada cinta yang paling tulus ketika namanya lebih sering kusebut kepada Tuhan daripada kepada dunia.
Maka malam ini, Tuhan, aku kembali menitipkan dia kepada-Mu,
jaga langkahnya ketika aku tidak mampu berada di dekatnya, tenangkan hatinya ketika aku tidak mampu menghiburnya, dan lindungi senyumnya ketika aku hanya bisa memandang dari kejauhan,
jika suatu hari nanti jalan kami kembali dipertemukan, semoga kami telah menjadi dua manusia yang lebih pantas untuk saling menjaga,
dan jika hari itu benar-benar datang, biarkan aku tahu bahwa seluruh air mata dan penantian ini ternyata sedang Kau ubah menjadi sebuah jawaban.
Aku tidak ingin memaksa takdir, Tuhan,
aku hanya ingin tetap percaya bahwa doa yang tulus tidak pernah benar-benar hilang, meski jawabannya belum terlihat,
mungkin hari ini aku hanya mampu merindukannya dalam diam, tetapi aku percaya Engkau sedang menyiapkan sesuatu yang tidak mampu kulihat dari tempatku berdiri,
sebab aku tahu, Engkau tidak pernah terlambat Engkau hanya sedang mengajarkan hatiku untuk menunggu dengan cara yang paling indah.
Dan apabila akhirnya dia benar-benar menjadi milikku,
aku ingin memandang matanya sambil mengingat semua malam ketika namanya hanya mampu kupeluk melalui doa,
aku ingin berkata bahwa pernah ada masa ketika aku hampir menyerah, tetapi Tuhan membuatku bertahan satu hari lagi, lalu satu hari lagi, sampai akhirnya penantian itu menemukan rumahnya,
bukan sekadar di dalam pelukanku, tetapi di dalam takdir yang telah Kau ridai.
Namun jika pada akhirnya Tuhan memilih jalan yang berbeda,
semoga aku tetap mampu mengatakan: “Terima kasih, Tuhan, karena pernah mengizinkanku mencintai sedalam ini.”
Sebab aku percaya, kehilangan seseorang tidak akan pernah menjadi kehilangan Tuhan,
dan selama Engkau masih menjadi tempatku pulang, aku akan tetap memiliki alasan untuk berharap, bahkan ketika dunia memberiku seribu alasan untuk menyerah.
Jadi, Tuhan, biarkan aku merindu tanpa putus asa,
biarkan aku berharap tanpa menggugat keputusan-Mu,
biarkan aku mencintai tanpa menjadikan cinta itu lebih besar daripada cintaku kepada-Mu,
hingga pada akhirnya aku mengerti: mungkin yang selama ini kukejar bukan sekadar seseorang untuk kumiliki, melainkan jalan panjang yang Kau gunakan untuk membawaku semakin dekat kepada-Mu.

0 Komentar