SERAT KARYA
Ada malam-malam yang tak pernah benar-benar berlalu.
Ia hanya bersembunyi di balik embusan angin,
lalu kembali mengetuk ingatan
setiap rembulan mulai menggantung di langit.
Di sanalah kita pernah ada.
Hanya kau dan aku, ditemani desir angin
yang membawa harum dedaunan, serta nyanyian jangkrik
yang mengalunkan syair paling purba
tentang cinta yang tak membutuhkan saksi.
Kita tertawa...
bukan karena dunia begitu sempurna, melainkan karena saat itu
kita adalah rumah
bagi kebahagiaan satu sama lain.
Tawamu melayang, menyatu dengan angin malam,
sementara aku diam-diam berharap
waktu kehilangan arah, agar fajar lupa
menyentuh ufuk timur.
Di bawah rembulan, wajahmu tampak begitu teduh.
Matamu memantulkan cahaya langit,
namun yang kulihat bukan sekadar sinarnya, melainkan masa depan
yang pernah begitu ingin kuperjuangkan.
Kita bercerita tanpa batas.
Tentang mimpi yang ingin digapai, tentang ketakutan yang tak pernah kita akui,
tentang luka yang perlahan sembuh hanya karena didengar
oleh seseorang yang mau tinggal.
Lalu kita saling menatap.
Tatapan yang begitu panjang,
hingga kata-kata kehilangan tugasnya.
hingga kata-kata kehilangan tugasnya.
Sebab ada bahasa yang hanya dimengerti oleh dua hati
yang sedang saling mencintai.
Malam menjadi begitu pendek,
sementara rasa ingin bersama
terasa begitu panjang.
Kini...... angin masih datang dengan kesejukan yang sama.
Jangkrik masih menyanyikan lagu yang dulu kita dengar.
Rembulan pun masih setia menyinari bumi
dengan cahaya yang tak pernah berubah.
Namun hanya satu
yang tak lagi kembali.
Dirimu.
Kini aku duduk sendiri
di tempat yang pernah menjadi saksi
betapa bahagianya dua manusia yang pernah saling percaya
bahwa cinta mampu mengalahkan waktu.
Aku masih mendengar tawamu di sela desir angin.
Masih melihat bayanganmu berjalan perlahan di bawah cahaya rembulan.
Masih merasakan hangat tatapanmu, meski malam telah lama
kehilangan sosok yang memberinya arti.
Barangkali...
kenangan memang diciptakan agar manusia belajar
bahwa ada kebahagiaan yang hanya singgah,
bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang sepanjang usia.
Dan sejak kau pergi,
aku tak pernah lagi mencari malam
yang lebih indah.
Karena malam terbaik
telah habis kita jalani bersama.
Kini setiap rembulan hanya mengingatkanku
bahwa pernah ada sepasang insan yang menghabiskan waktu
dengan saling bercerita, tertawa kecil, ditemani angin dan suara jangkrik,
hingga akhirnya hanya kenangan yang tetap setia tinggal.
Sementara aku...
masih berbicara kepada malam,
berharap angin menemukanmu,
lalu membisikkan satu kalimat
yang tak pernah sempat kuselesaikan:
"Aku masih mencintaimu, bahkan setelah kenangan menjadi satu-satunya tempat kita bertemu."
(G)

0 Komentar