SERAT KARYA
Di bawah gunung, ketika pagi belum bernama,
embun jatuh perlahan di atas rerumputan,
seperti rinduku yang tak pernah bersuara,
namun selalu datang membawa namamu dalam diam.
Ia tak mampu mendaki menuju puncak,
hanya tinggal di lembah, menunggu matahari,
seperti aku yang ingin mendekat kepadamu,
namun hanya mampu mencintaimu dari jauh sekali.
Embun tahu, matahari akan membuatnya tiada,
tetapi setiap malam ia kembali tanpa meminta,
begitulah rinduku kepadamu yang tak pernah belajar menyerah,
meski tahu pertemuan mungkin hanya akan menjadi doa.
Gunung berdiri kokoh memisahkan jarak,
sementara lembah menyimpan segala yang tak terucapkan,
dan aku menjadi embun yang memilih tetap menetap,
meski perlahan kering oleh waktu dan kehilangan.
Jika suatu pagi kau berjalan di bawah gunung,
dan menemukan embun berkilau di antara rerumputan,
anggaplah itu rinduku yang belum sempat pulang,
menetes dari langit, lalu diam-diam menyebut namamu.
Sebab rindu tak selalu harus sampai kepada yang dirindukan,
kadang ia cukup menjadi embun yang jatuh dalam kesunyian,
hadir sebentar, namun meninggalkan kesejukan,
seperti cintaku tak dapat memilikimu, tetapi tak pernah benar-benar hilang.
(G)

0 Komentar