Paraspediaindonesia

Doa untuk Embun yang Tak Pernah dimiliki


SERAT KARYA

Pada suatu pagi
ketika langit masih menyimpan sisa-sisa gelap,
aku menemukanmu
dalam sebutir embun
yang gemetar di ujung ilalang.

Kau begitu kecil,
namun mampu memantulkan seluruh langit.

Saat itulah aku mengerti,
bahwa keindahan
tak pernah membutuhkan ukuran
untuk membuat seseorang jatuh cinta.

Aku menyebut namamu
dalam diam,
sebab ada cinta
yang akan kehilangan kesuciannya
jika terlalu banyak diucapkan.

Aku menyimpanmu
di tempat paling sunyi
dalam dadaku,
tempat yang bahkan air mata
enggan berkunjung
karena tahu
luka di sana
terlalu dalam untuk dibasuh.

Engkau adalah embun.

Kau lahir
bukan untuk dimiliki daun,
bukan pula untuk menetap
di pelukan bunga.

Kau hanya singgah,
mengajarkan kesejukan
kepada siapa pun
yang sempat memandangmu.

Lalu,
ketika matahari datang
membawa takdirnya,

kau lenyap.

Bukan karena berhenti indah,
melainkan karena dunia
tak pernah memberi kesempatan
kepada embun
untuk hidup lebih lama.

Begitu pula cintaku.

Ia tak pernah mati.

Ia hanya berubah
menjadi kabut
yang setiap pagi
menyelimuti pegunungan rinduku.

Orang-orang berkata,
waktu akan menghapus segala luka.

Mereka tidak tahu,
bahwa ada nama
yang justru semakin jelas
setiap kali waktu berlalu.

Mereka tidak tahu,
bahwa rindu
adalah hujan
yang turun di dalam dada,
tanpa suara,
tanpa musim,
dan tanpa akhir.

Aku tak lagi berharap
menjadi lelaki
yang menggenggam tanganmu.

Harapanku kini sesederhana embun.

Biarlah aku menjadi angin
yang sesekali melewatimu,
membawa kesejukan
tanpa harus kau sadari.

Biarlah aku menjadi doa
yang tak pernah kau dengar,
tetapi diam-diam
menjaga langkahmu
di setiap jalan yang kupastikan
tak lagi bisa kulewati bersamamu.

Sebab mencintaimu
adalah belajar
bahwa tidak semua bunga
ditanam untuk dipetik.

Tidak semua bintang
diciptakan untuk diraih.

Dan tidak semua wanita
yang membuat kita jatuh cinta
ditakdirkan menjadi rumah.

Ada yang hanya datang
agar hati mengerti
betapa luasnya rasa,
betapa sempitnya kesempatan,
dan betapa kerasnya takdir
saat memilih siapa
yang boleh saling memiliki.

Kelak,
jika rambutku telah memutih
dan langkahku tak lagi mampu
mengejar pagi,

aku ingin duduk
di lereng pegunungan
menunggu embun turun sekali lagi.

Bukan karena aku masih berharap
kau akan kembali.

Tetapi karena di antara jutaan tetes embun
yang lahir setiap fajar,

aku percaya...

ada satu tetes
yang masih menyimpan
pantulan wajahmu.

Dan selama embun
masih setia datang
menyapa bumi setiap pagi,

selama itu pula
aku akan percaya
bahwa cinta yang tak pernah memiliki
bukanlah cinta yang gagal.

Ia hanyalah cinta
yang dipilih Tuhan
untuk hidup selamanya
di dalam kenangan.

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close