Paraspediaindonesia

Embun yang Tak Pernah Sempat Menjadi Pagi

 

SERAT KARYA

Biarkan embun tetap tinggal di ujung daun, meski ia tahu matahari perlahan datang untuk menghapus keberadaannya. 


Mungkin dengan menjauh adalah satu-satunya cara agar beningnya tidak pecah oleh tangan yang terlalu ingin menggenggam. 


Biarlah semesta berjalan dengan kehendaknya, sementara kita hanya mampu menitipkan harapan kepada Tuhan yang lebih tahu ke mana takdir harus membawa langkah ini. 


Sebab terkadang, mencintai bukan tentang memiliki, melainkan tentang menjaga agar sesuatu yang kita cintai tidak terluka oleh keberadaan kita sendiri.


Andai dahulu semesta tidak begitu kejam pada perjalanan kita, mungkin kisah ini tidak akan berakhir menjadi luka yang diam-diam tumbuh di antara dada dan doa.


Andai waktu dapat diputar kembali, mungkin aku akan memilih jalan yang berbeda agar kita tidak perlu sampai pada titik di mana saling memiliki terasa seperti sebuah kemustahilan. 


Namun ternyata setiap langkah yang kita kira sedang mendekatkan kita kepada bahagia, justru perlahan membawa kita menuju kehilangan yang paling dalam. 


Kini aku hanya mampu menatap masa lalu seperti embun yang menggantung di daun, indah untuk dikenang tetapi mustahil untuk disentuh tanpa membuatnya jatuh.


Aku pernah berharap semua yang terjadi tidak pernah menjadi bagian dari hidup kita, bukan karena aku menyesal pernah mengenalmu, tetapi karena perjalanan panjang itu akhirnya mengantarkan kita pada luka yang bahkan tidak tahu bagaimana cara sembuhnya. 


Entah pada waktu yang mana Tuhan akan kembali menunjukkan jalan, mungkin saat itu kita sudah menjadi dua manusia asing yang hanya mengenali nama tanpa lagi mengenali rasa. 


Semua ingatan mungkin akan memudar, tetapi aku takut ada satu bagian dari diriku yang akan tetap menyimpanmu seperti embun menyimpan dinginnya malam. 


Dan jika sakit itu kembali, untuk selanjutnya aku tidak tahu apakah hati ini masih memiliki cukup ruang untuk hancur sekali lagi.


Dulu Tuhan pernah menunjukkan sebuah jalan yang membuatku percaya bahwa mungkin ada akhir yang indah untuk segala penantian. 


Tetapi semakin jauh kaki melangkah, semakin jelas bahwa jalan itu dipenuhi persimpangan yang tidak pernah kita mengerti ujungnya. 


Kini aku bertanya kepada langit, apakah sesuatu yang dahulu mustahil masih mungkin terjadi ketika kita sudah sejauh ini berjalan. 


Ataukah pertemuan kita hanya ditakdirkan seperti embun dan mentari, saling hadir di pagi yang sama tetapi tidak pernah ditakdirkan untuk tinggal bersama.


Sekarang kita berada di antara dua palung terdalam yang masing-masing menyimpan kesedihan dan rahasia yang tidak sanggup kita ungkapkan. 


Kita sama-sama melihat cahaya dari kejauhan, tetapi tidak tahu apakah cahaya itu adalah jalan untuk pulang atau hanya harapan yang sengaja diletakkan Tuhan agar kita terus bertahan. 


Aku ingin percaya bahwa suatu hari nanti, takdir akan menemukan cara untuk mempertemukan dua hati yang pernah tersesat di jalan masing-masing. 


Namun jika ternyata tidak, biarlah aku menjadi embun yang jatuh perlahan sebelum pagi benar-benar datang, membawa namamu dalam diam  dan hilang tanpa pernah sempat mengatakan bahwa aku masih ingin tinggal. (G)

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close