Paraspediaindonesia

Embun yang Tak Pernah Kumiliki

SERAT KARYA

Kau datang seperti embun,
lahir dari sunyi yang dipeluk fajar.
Tak bersuara, namun kehadiranmu mampu membasahi
seluruh kemarau di dalam dadaku.

Aku mencintaimu
bukan karena ingin memilikimu,
melainkan karena hatiku telah memilih
bahkan sebelum logika sempat bertanya.

Namun takdir rupanya memiliki jalan
yang tak pernah mengizinkan
dua langkah kita bertemu
di ujung perjalanan yang sama.

Kau adalah embun yang selalu kupandangi di ujung helai daun.
Begitu bening, begitu indah,
namun setiap kali kuulurkan tangan,
kau menghilang bersama hangatnya matahari.

Begitulah engkau bagiku.

Aku hanya dapat menikmati keindahanmu
dari kejauhan,
menjaga namamu
di ruang yang tak pernah diketahui siapa pun.

Barangkali cinta memang tidak selalu berakhir dengan memiliki.
Kadang ia hanya dititipkan agar seseorang belajar tentang ikhlas,
tentang menunggu yang tak pasti dan tentang merelakan
tanpa pernah berhenti mencintai.

Jika suatu hari nanti
ada yang bertanya
mengapa aku masih menyebut namamu
dalam setiap doa, akan kujawab,

"Karena ada wanita yang diciptakan seperti embun
ia tidak pernah menjadi milik langit, tidak pula menjadi milik bumi.
Ia hanya singgah sebentar, memberi kesejukan,
lalu pergi meninggalkan rindu yang tak pernah benar-benar kering."

Dan aku...
akan tetap menjadi daun yang setiap pagi
setia menantikan embun, meski telah mengetahui
bahwa embun tak pernah ditakdirkan untuk dimiliki. (Gani)

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close