Paraspediaindonesia

Embun yang Menyerah pada Pagi

SERAT KARYA

Aku adalah embun yang lahir dari dinginnya malam

menetes perlahan di ujung daun sambil membawa rindu yang tak pernah menemukan jalan pulang

Setiap tetesku adalah nama yang diam-diam kusebut dalam gelap

meski aku tahu namamu tak akan pernah menjawab. 


Aku bertahan sepanjang malam hanya untuk merasakan sedikit kedekatan denganmu

walau pada akhirnya jarak selalu menjadi takdir yang paling kejam

Dan ketika pagi datang, aku hanya bisa pasrah menunggu matahari menghapus keberadaanku

sebagaimana waktu perlahan menghapus harapan yang pernah kutitipkan kepadamu.


Aku ingin menjadi embun yang kau lihat sebelum matahari terbit

agar setidaknya sekali saja keberadaanku memiliki arti di matamu

Namun aku terlalu rapuh untuk mengetuk pintu hatimu dan terlalu dalam mencintai seseorang yang bahkan mungkin tak pernah tahu aku sedang menunggunya

Rinduku telah berubah menjadi luka yang setiap malam kembali basah seperti daun yang tak pernah mampu mengeringkan embun di tubuhnya.


Semakin lama kutahan

semakin jelas aku mengerti

Bahwa ada cinta yang memang diciptakan hanya untuk dirasakan

bukan untuk dimiliki.


Kini aku tidak lagi berharap kau datang, sebab harapan telah menjadi matahari

yang perlahan membakar sisa-sisa ketabahanku

Aku hanya ingin tetap menjadi embun yang jatuh tanpa suara

mencintaimu dari kejauhan tanpa meminta sedikit pun balasan


Jika suatu hari kau menemukan bening yang mengalir di antara sunyi pagi

mungkin itu bukan embun, melainkan air mata seseorang yang semalaman berjuang

Agar rindunya tidak berubah menjadi keputusasaan

Dan ketika cahaya akhirnya membuatku lenyap, biarkan itu menjadi akhir dari penantianku

 sebab mungkin hanya dengan menghilang aku bisa berhenti merindukanmu. (G)

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close