SERAT KARYA
Aku adalah embun yang lahir dari dinginnya malam
menetes perlahan di ujung daun sambil membawa rindu yang tak pernah menemukan jalan pulang
Setiap tetesku adalah nama yang diam-diam kusebut dalam gelap
meski aku tahu namamu tak akan pernah menjawab.
Aku bertahan sepanjang malam hanya untuk merasakan sedikit kedekatan denganmu
walau pada akhirnya jarak selalu menjadi takdir yang paling kejam
Dan ketika pagi datang, aku hanya bisa pasrah menunggu matahari menghapus keberadaanku
sebagaimana waktu perlahan menghapus harapan yang pernah kutitipkan kepadamu.
Aku ingin menjadi embun yang kau lihat sebelum matahari terbit
agar setidaknya sekali saja keberadaanku memiliki arti di matamu
Namun aku terlalu rapuh untuk mengetuk pintu hatimu dan terlalu dalam mencintai seseorang yang bahkan mungkin tak pernah tahu aku sedang menunggunya
Rinduku telah berubah menjadi luka yang setiap malam kembali basah seperti daun yang tak pernah mampu mengeringkan embun di tubuhnya.
Semakin lama kutahan
semakin jelas aku mengerti
Bahwa ada cinta yang memang diciptakan hanya untuk dirasakan
bukan untuk dimiliki.
Kini aku tidak lagi berharap kau datang, sebab harapan telah menjadi matahari
yang perlahan membakar sisa-sisa ketabahanku
Aku hanya ingin tetap menjadi embun yang jatuh tanpa suara
mencintaimu dari kejauhan tanpa meminta sedikit pun balasan
Jika suatu hari kau menemukan bening yang mengalir di antara sunyi pagi
mungkin itu bukan embun, melainkan air mata seseorang yang semalaman berjuang
Agar rindunya tidak berubah menjadi keputusasaan
Dan ketika cahaya akhirnya membuatku lenyap, biarkan itu menjadi akhir dari penantianku
sebab mungkin hanya dengan menghilang aku bisa berhenti merindukanmu. (G)

0 Komentar