Paraspediaindonesia

Embun Terakhir di Ujung Rindu


SERAT KARYA

Aku mengenalmu seperti pagi mengenal embun
datang tanpa suara, indah tanpa meminta
lalu perlahan membuat hati percaya bahwa sesuatu yang singkat bisa terasa begitu berarti.

Aku hanya bisa melihatmu,
seperti daun melihat embun
yang jatuh di tubuhnya
tanpa pernah mampu memeluknya.

Kau begitu dekat di mata,
namun begitu jauh di kenyataan.

Setiap kali pagi datang, aku berharap namamu
menetes di antara cahaya,
meski aku tahu
kau bukan untuk kumiliki.

Maka biarlah rinduku
menjadi embun yang diam-diam jatuh tak bersuara
tak menuntut, tak pernah meminta matahari
untuk memperpanjang pagi.

Sebab aku tahu,
ketika matahari datang,
embun akan menghilang.

Begitu pula mungkin kita.

Kita hanya diberi kesempatan
untuk saling memandang,
bukan untuk saling menggenggam.
Diberi rasa untuk saling merindukan,
namun tidak diberi jalan
untuk berjalan berdampingan.

Dan aku memilih diam.

Bukan karena rinduku telah selesai,
melainkan karena aku takut
jika perasaan ini bersuara,
ia akan mengganggu kebahagiaanmu.

Jadi setiap pagi,
ketika dunia mulai terang,
aku akan tetap menjadi seseorang
yang diam-diam mencari keberadaanmu
seperti daun menunggu embun.

Bukan untuk memilikinya.

Hanya untuk merasakan
bahwa pernah ada sesuatu yang begitu indah
meski akhirnya harus rela
hilang bersama hangatnya matahari.

Jika kelak kau tak pernah tahu betapa sering namamu
berdiam di dalam doaku,
biarlah, Sebab mencintaimu
tak selalu harus memiliki.

Kadang cinta adalah memandang dari kejauhan,
menyimpan rindu tanpa suara, lalu tersenyum ketika melihatmu bahagia
meski kebahagiaan itu bukan bersamaku.

Dan bila suatu pagi
kau melihat embun berkilau
di ujung daun,
anggap saja itu aku

sebuah rindu
yang sempat jatuh kepadamu,
namun tak pernah cukup berani
untuk memintamu tinggal.

Sebab seperti embun,
aku hanya ingin hadir sebentar di hidupmu,
meski tak pernah menjadi bagian
dari pagi yang kau pilih untuk selamanya. (G)

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close