SERAT KARYA
Ada rasa yang sengaja kusimpan,
bukan karena ia tak ingin bersuara,
melainkan karena aku takut,
sekali ia terucap,
kau tak lagi tinggal di tempat yang sama.
Aku ingin berkata,
bahwa namamu sering menjadi alasan
mengapa senyumku datang tanpa aba-aba,
bahwa hadirmu perlahan menjadi rumah
yang tak pernah berani kusebut sebagai rumah.
Namun lidahku memilih diam,
sebab aku tahu,
pengakuan kadang tak membawa seseorang mendekat,
justru membuat jarak tumbuh
di antara dua hati yang sebelumnya baik-baik saja.
Maka biarlah perasaan ini
menjadi rahasia yang kupeluk sendirian,
menjadi doa yang tak pernah kusebutkan,
menjadi rindu yang hanya berani
kutitipkan pada malam.
Aku tidak takut mencintaimu,
aku hanya takut kehilanganmu
setelah kau tahu
betapa dalam aku menyimpanmu.
Sebab jika harus memilih
antara memiliki dengan segala kemungkinan,
atau tetap memilikimu dalam diam,
mungkin aku akan memilih diam
meski setiap hari
diam itu perlahan membunuh harapanku.
Dan bila suatu hari nanti
kau bertanya mengapa aku tak pernah berkata,
mungkin jawabannya sederhana:
Aku terlalu ingin memilikimu,
hingga aku takut satu kejujuran
justru membuatku kehilanganmu kembali. (G)

0 Komentar