Breaking News

Pino Bahari Terlantar, Negara Dipertanyakan: Juara yang Kini Berjuang Sendiri

Foto : Pino Bahari, mantan petinju kelas menengah Terkulai lemah di rumah sakit

DENPASAR - Nasib getir kembali menampar wajah olahraga nasional. Pino Bahari, mantan petinju kelas menengah yang pernah mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia, kini terbaring kesakitan tanpa kepastian bantuan negara usai mengalami kecelakaan di Denpasar, Bali, pada 13 April 2026.

Peraih medali emas yang pernah tampil di Olimpiade Barcelona 1992 dan Olimpiade Athena 1996 itu mengalami patah engkel kaki kiri serta cedera serius pada empat ruas tulang rusuk bagian belakang. Kondisi tersebut menuntut tindakan medis segera, termasuk operasi dengan estimasi biaya mencapai Rp200 juta.

Namun ironinya, di tengah kondisi kritis itu, Pino harus berjuang sendiri.

Informasi dari Indonesia Peduli Olahraga (IPO) mengungkap realitas pahit yang dihadapi sang mantan juara. Putra pelatih legendaris Daniel Bahari itu kini hidup serabutan sebagai pengemudi ojek online dan panitia tinju lokal. Penghasilan yang tidak menentu membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi membayar biaya operasi yang sangat besar.

Kondisi ini memantik sorotan tajam terhadap sikap pemerintah. Kementerian Pemuda dan Olahraga yang dipimpin Erick Thohir, bersama Wakil Menteri Taufik Hidayat, dinilai belum menunjukkan respons yang memadai. Tidak ada kunjungan, pernyataan resmi, maupun langkah konkret yang terlihat hingga saat ini.

Ketiadaan empati dari para pengambil kebijakan itu memunculkan pertanyaan mendasar: apakah jasa atlet hanya dihargai saat mereka masih berjaya, lalu dilupakan ketika mereka terpuruk?

Sorotan juga mengarah ke Indonesian Olympians Association (IOA) yang dipimpin Yayuk Basuki. Organisasi yang seharusnya menjadi wadah solidaritas para mantan Olympian justru terkesan bungkam. Minimnya respons memicu pertanyaan terkait komitmen serta transparansi pengelolaan sumber daya, termasuk dana sponsor yang sebelumnya disebut mencapai miliaran rupiah.

IPO bahkan melontarkan usulan keras kepada Presiden RI Prabowo Subianto agar mengevaluasi secara serius kinerja Menteri dan Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga dalam menangani persoalan ini.

Kasus Pino Bahari bukan sekadar tragedi personal. Ini adalah cermin buram yang kembali membuka luka lama: pola pengabaian terhadap atlet setelah masa kejayaan mereka berakhir. Mereka yang pernah mengorbankan tenaga, waktu, dan bahkan kesehatan demi Merah Putih, sering kali hanya dikenang saat menang—lalu dilupakan ketika membutuhkan uluran tangan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kasus serupa bukan tidak mungkin akan terus berulang. Negara tidak bisa terus hadir hanya di podium kemenangan, tetapi absen ketika para pahlawan olahraga membutuhkan perlindungan nyata. (Harry)

Iklan

Type and hit Enter to search

Close